Romantisme Dieng Culture Festival

Mencintai Indonesia tak bisa hanya mencintai kekayaan alamnya saja. Negeri yang dikenal dengan sebutan ‘nusantara’ ini juga memiliki ragam budaya lokal yang memikat hati. Salah satu yang dapat dinikmati langsung adalah Dieng Culture Festival.

Dieng Culture Festival, perayaan budaya yang dihelat setiap tengah tahun ini terbukti menyedot lebih dari 20.000 wisatawan setiap tahunnya. Rangkaian acara yang sakral nan romantis ini dikemas untuk menyasar para kawula muda. Bagaimana tidak? Usai menikmati suguhan musik Jazz Atas Awan, kita diajak menerbangkan lampion ke atas langit. Dipadu cahaya kerlap kerlip, serta tawa yang lepas usai jingkrak menguras keringat, tentu, pengalaman romantis ini hanya bisa kamu dapat dalam panggung acara Dieng Culture Festival. Sangatlah rugi, jika hanya dinikmati sendirian saja. Jangan lupa bawa gandengan, ya!

Acara puncak Dieng Culture Festival adalah ritual cukur rambut gembel. Ritual turun temurun masyarakat Dieng dalam bentuk pemotongan rambut gembel ini adalah acara yang terbilang cukup sakral, namun tetap dilirik wisatawan.

Tahukah kamu? Sebelum ritual pemotongan rambut gembel dimulai, sang anak biasanya memiliki permintaan yang harus dituruti orangtuanya. Ada yang minta dibelikan televisi, radio, kambing, dan lucunya lagi, ada yang minta es lilin.  Bisa dibayangkan, selugu apa anak ini!

Apa yang terjadi jika permintaan anak tidak dituruti? Rambut gembel yang sudah dipotong tadi akan tumbuh kembali menjadi gembel.

Tak hanya itu, peserta Dieng Culture Festival juga mendapat akses masuk gratis ke beberapa tempat wisata yang ada di sekitanya. Seperti Candi Arjuna, Telaga Warna, dan Kawah Sikidang. Tak kalah menarik juga, ada Batu Pandang, Bukit Pangonan, Puncak Sikunir, Telaga Merdada, Telaga Cebong, dan Museum Kailasa yang tak boleh dilewati.

Tahun lalu, saya bersama Sociotraveler berkesempatan menikmati trek pendakian baru di Bukit Pangonan. Bukit yang berada di belakang Museum Kailasa ini memiliki lansekap apik yang dikenal dengan nama Lembah Teletubbies, lho!

Hanya butuh waktu tidak lebih dari dua jam untuk sampai bukit cantik ini. Menariknya, kami menemukan momen bun upas yang cukup langka. Seluas mata memandang, hamparan rumput diselimuti kristal es akibat embun yang membeku. Percaya tidak? Suhu saat itu mencapai minus 2 derajat celcius. Brrr… Jangan khawatir. Bawalah pakaian hangat dan perlengkapan P3K sesuai kebutuhanmu, ya!

Tak sabar menyaksikan dan menikmati keromantisan DCF 2017? Pastikan kamu hadir pada tanggal 4-6 Agustus 2017! Sampai bertemu di DCF 2017!

P.S: Foto yang digunakan adalah dokumentasi acara DCF 2016.

About The Author

Related Posts

Leave a Reply